Story From "THEATER of DREAM" OLD TRAFFORD - Hanif Uchiha

Saturday, January 21, 2012

Story From "THEATER of DREAM" OLD TRAFFORD


           Tingkat Kebisingandi Old Trafford pernah diukur lebih keras dari kebisingan deru pesawat jumbojet yang hendak melakukan takeoff. Sekarang, mempunyai tingkat kebisingan setara dengan Fokker pun sudah cukup baik.

Suporter adalah pemain ke-12 dalam setiap tim sepakbola. Dukungan dan teriakan dari mereka adalah oksigen tambahan yang memompa jantung para pemain yang berlaga di lapangan lebih kencang lagi. Saban kali Manchester United berlaga di Old Trafford, dukungan paling riuh rendah datang dari tribun West Stand, tempat para suporter United paling fanatik berada, tapi para United Faithfuls lebih suka menyebutnya dengan nama lama, Stretford End.

Sebelum munculnya regulasi bahwa semua tribun di stadion harus memiliki tempat duduk, Stretford End adalah teras area berdiri yang sanggup menampung 20 ribu penonton dan menghasilkan suara memekakkan telinga mampu mengintimidasi tim dan suporter lawan. Setelah munculnya keharusan semua tribun memiliki tempat duduk, maka Stretford End berubah menjadi tribun 2 tingkat di mana para suporter fanatik memilih berada di bagian atas.

Tidak perlu hadir langsung di Old Trafford untuk mengetahui seberapa kuat desibel yang dihasilkan Stretford End, tribun yang dari sudut pandang televisi selalu berada di sebelah kiri layar ini. Dari siaran televisi Indonesia pun bisa didengar seberapa kuat chants yang dinyanyikan dari Stretford End. Bila anda menonton semifinal Champions League dua musim silam saat United menjamu Barcelona, anda bisa melihat luar biasanya dukungan yang diberikan oleh Stretford End. Atau saksikan tiap kali Liverpool bertandang ke Old Trafford, maka Stretford End akan memberi sambutan paling intimidatif kepada rival abadi Manchester United tersebut.

Tapi jika kita memperhatikan partai United di Old Trafford pada beberapa pertandingan terakhir, terlihat bahwa Stretford End tidak segarang dulu lagi. Ya, masih terdengar chants khas United yang mewarnai setiap laga, tapi jika dibandingkan dengan masa lalu , maka perbedaan yang mencolok bisa didapati.

Mengapa?

Para suporter garis keras United yang biasanya menghuni Stretford End adalah mereka yang tergabung dalam Red Army atau Intercity Jibbers. Mereka adalah salah satu penentang utama kehadiran Glazer di United. Ketidaksukaan mereka pada Glazers ditunjukkan dengan keengganan mereka hadir di Old Trafford saat hari pertandingan karena mereka merasa jika mereka datang membeli tiket, maka itu berarti mereka memberikan uang mereka kepada Glazer, sesuatu yang tak bisa mereka terima.

Para suporter fanatik United, mereka yang mendonasikan pita suara mereka bagi gemuruhnya Stretford End, kebanyakan memilih untuk kehilangan atmosfer pertandingan daripada ”menyerah” terhadap kehadiran Glazer. Mereka lebih memilih untuk menyaksikan laga kandang United di bar-bar sekitar Old Trafford, terlebih Bishop Blaize, tempat Pete Boyle, salah satu suporter United paling berpengaruh bersemayam.

Hilangnya para suporter fanatik United tersebut dari Stretford End menyebabkan Old Trafford kehilangan rohnya sebagai salah satu tempat paling mengerikan bagi tim tamu. Beberapa diehard fans United masih bertahan untuk hadir di stadion, tapi dengan hanya menyisakan jenis penonton yang memilih duduk adem ayem dan jejeran turis tiada henti setiap pertandingan, sulit untuk melihat Old Trafford bergelora seperti sedia kala.

Sungguh ironis karena Manchester United dikenal memiliki salah satu suporter away terbaik di dunia. Para suporter garis keras tersebut tidak bermasalah hadir di stadion tim lain karena mereka berpendapat ”tidak ada Glazer di sana”. Tengoklah bila United bermain tandang, maka satu atau dua blok suporter United sanggup menandingi suara dari suporter tim tuan rumah yang berlipat ganda jumlahnya, bahkan di Anfield sekalipun.

Roy Keane melontarkan kritikan pedasnya yang terkenal atas atmosfer Old Trafford pada tahun 2000, ”spell football, never mind understand it” dan melabeli jenis penonton tertentu dengan ”prawn sandwich brigade”. Pada 1 Januari 2008, giliran Sir Alex Ferguson yang mengatakan bahwa suasana di Old Trafford ”mirip dengan pemakaman” karena kurangnya tensi dan dukungan dari tribun penonton. Dari pengamatan penulis yang hanya menonton dari televisi, pertandingan kandang musim ini melawan CSKA Moskow dan Blackburn Rovers pun mempunyai similaritas dengan ”suasana pemakaman”. Bila Keano berada di sana saat itu, entah apa yang akan ia katakan.

Bulan lalu penulis menyaksikan salah satu derby terkeras di Liga Inggris tapi gaungnya tidak melintasi benua karena kedua tim tidak bernama Manchester United, Arsenal, Liverpool, ataupun Chelsea. Pertandingan tersebut adalah East Lancashire Derby antara Blackburn Rovers melawan Burnley, dan suasana Ewood Park pada laga itu luar biasa bergemuruh. Pada laga yang berakhir 3-2 untuk kemenangan tuan rumah itu, kerinduan akan atmosfer Old Trafford yang berdentum, keinginan untuk melihat bagaimana hubungan emosional antara penggemar dengan klub sepakbola kesayangannya, meski hanya disaksikan dari layar kaca, kembali menyeruak.

Bila tim yang relatif lebih kecil seperti Blackburn dan Ewood Park-nya bisa menyajikan atmosfer luar biasa, mengapa Manchester United dan Old Trafford-nya tidak bisa memberikan pemandangan serupa?

Tapi sekarang sepertinya kebisingan para supporter Manchester United sudah kembali mengingat Glazers pun tidak selalu ada di Old Trafford.

0 komentar:

Post a Comment

Ads google

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites